Strategi politik yang diterapkan oleh Henk Sneevliet dalam organisasi ISDV merupakan taktik yang sangat fenomenal dalam sejarah pergerakan nasional Indonesia. Karena jumlah anggota yang sedikit, Sneevliet memutuskan bahwa anggota ISDV Menyusup ke dalam organisasi massa yang lebih besar. Langkah ini diambil guna mempercepat penyebaran paham sosialisme di Hindia Belanda.
Sarekat Islam (SI) dipilih sebagai target utama karena memiliki basis massa rakyat jelata yang sangat luas dan militan. Melalui metode yang dikenal sebagai “Blok di Dalam,” para aktivis ISDV Menyusup secara sistematis ke dalam struktur internal SI. Mereka memanfaatkan celah regulasi organisasi yang saat itu masih memperbolehkan adanya keanggotaan ganda.
Tokoh-tokoh muda berbakat seperti Semaoen dan Darsono menjadi jembatan utama dalam keberhasilan strategi infiltrasi yang sangat berani ini. Ketika kader ISDV Menyusup ke cabang-cabang penting seperti SI Semarang, mereka mulai menanamkan kesadaran kelas kepada para buruh. Pengaruh ideologi kiri pun mulai menggeser dominasi isu agama dalam narasi perjuangan.
Keberhasilan taktik ini terlihat jelas saat SI mulai mengadopsi sikap yang lebih radikal dan konfrontatif terhadap pemerintah kolonial. Namun, upaya ISDV Menyusup akhirnya memicu ketegangan internal yang luar biasa hebat antara faksi konservatif dan faksi revolusioner. Perbedaan prinsip mengenai arah perjuangan organisasi tidak dapat lagi dihindarkan oleh para pemimpinnya.
Ketegangan tersebut memuncak pada perpecahan besar yang melahirkan faksi SI Putih dan SI Merah dalam tubuh organisasi tersebut. Agus Salim dan Abdul Muis menentang keras pengaruh marxisme yang dibawa oleh para penyusup dari ISDV. Mereka menyadari bahwa identitas keislaman mulai tergerus oleh doktrin perjuangan kelas yang sangat sekuler.
Pemerintah kolonial Belanda mengamati dinamika ini dengan penuh kewaspadaan karena potensi pemberontakan rakyat semakin nyata dan besar. Disiplin partai akhirnya diberlakukan untuk membersihkan unsur-unsur kiri yang mencoba menguasai arah kebijakan organisasi Sarekat Islam. Hal ini menandai berakhirnya era keanggotaan ganda yang selama ini dimanfaatkan secara cerdik oleh ISDV.
Meskipun akhirnya dikeluarkan, warisan pemikiran radikal yang dibawa oleh para infiltran telah mengubah wajah politik di tanah air. Organisasi SI Merah kemudian bertransformasi menjadi kekuatan politik baru yang lebih terorganisir di bawah panji komunisme. Strategi infiltrasi ini tetap menjadi pelajaran penting mengenai taktik politik dalam menguasai massa secara efektif.
