Setelah bencana alam besar melanda, fase krisis yang paling mendesak dan seringkali mematikan adalah kekurangan air bersih. Krisis air muncul akibat rusaknya infrastruktur penyaringan dan distribusi, tercemarnya sumber air oleh lumpur atau jenazah, serta terputusnya akses logistik ke wilayah terdampak. Situasi ini bukan hanya mengancam dehidrasi, tetapi juga memicu wabah penyakit menular seperti diare dan kolera, yang seringkali menjadi penyebab kematian sekunder pasca-bencana. Oleh karena itu, diperlukan inovasi penanganan yang cepat, tepat, dan berkelanjutan untuk menjamin ketersediaan air minum yang aman bagi para penyintas.
Tantangan utama dalam penanganan krisis air adalah kecepatan dan mobilisasi. Pasca-gempa dan tsunami Palu pada tahun 2018, misalnya, dilaporkan bahwa 80% jaringan pipa utama di kota tersebut rusak total. Tim penanggulangan bencana menghadapi kesulitan besar karena sanitasi yang buruk memperparah kontaminasi sumber air permukaan. Untuk merespons situasi darurat ini, upaya inovasi penanganan difokuskan pada unit pengolahan air bergerak. Unit-unit Mobile Water Treatment Plant (MWTP) dikirimkan dari berbagai daerah, termasuk dari gudang logistik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta. Setiap MWTP mampu memproduksi hingga 5.000 liter air bersih per jam dari air sungai yang tercemar, mengubahnya menjadi air layak minum dalam hitungan menit. Proses penyediaan air bersih ini diawasi ketat oleh petugas dari Kementerian Kesehatan untuk memastikan standar kualitas terpenuhi sebelum didistribusikan.
Selain unit bergerak, inovasi penanganan juga merambah ke teknologi filtrasi sederhana yang dapat digunakan di tingkat individu dan keluarga. Di kawasan pelosok yang sulit dijangkau oleh kendaraan tangki, distribusi filter air ultrasonik portabel menjadi solusi efektif. Filter berukuran kecil ini, yang mampu menghilangkan bakteri dan virus berbahaya, dibagikan kepada lebih dari 10.000 kepala keluarga di daerah terpencil selama masa pemulihan pasca-bencana erupsi Gunung Api pada April 2024. Pendistribusian ini dikoordinasikan langsung oleh tim Search and Rescue (SAR) gabungan yang melibatkan anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) dari Komando Distrik Militer (Kodim) setempat. Para petugas juga memberikan edukasi penting mengenai cara penggunaan dan pemeliharaan filter agar manfaatnya berkelanjutan.
Dalam jangka panjang, inovasi penanganan juga melibatkan pembangunan kembali infrastruktur yang lebih tangguh (build back better). Program ini mencakup pembangunan sumur bor dalam yang terlindungi dari kontaminasi permukaan dan sistem gravitasi yang tidak sepenuhnya bergantung pada listrik. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) bekerja sama dengan konsultan teknik sipil merancang ulang jaringan pipa agar memiliki titik interkoneksi yang lebih banyak, sehingga jika satu segmen rusak, pasokan dari segmen lain masih dapat mengalir. Pertemuan evaluasi dan perencanaan rekonstruksi telah dilakukan pada hari Kamis, 17 Juli 2025, di Markas Kepolisian Daerah (Polda) setempat, memastikan bahwa pengamanan proyek strategis ini berjalan lancar. Dengan langkah-langkah ini, risiko krisis air bersih dapat diminimalisir saat bencana datang kembali.
